Dr Umi Dayati MPd, Dosen UM Sekaligus Motivator Level ASEAN

Tetap Suka Blusukan ke PAUD, meski Hanya Diberi Nasi Kotak

Nama Dr Umi Dayati MPd sebagai motivator sudah dikenal hingga tingkat ASEAN. Namun, dia lebih suka untuk blusukan ke sekolah kecil tanpa mematok tarif.

DIAN AYU ANTIKA HAPSARI

Menemui Dr Umi Dayati MPd bisa dikatakan susah-susah gampang. Dikatakan gampang karena hanya dengan berkirim pesan singkat saja sudah bisa membuat janji. Dikatakan susah karena jam terbangnya yang tinggi, jadi jarang berada di Kota Malang. Sebab, dia harus mengisi seminar dan ceramah di sana-sini. Termasuk dari satu kota ke kota yang lain. ”Ketemunya Senin (7/12) siang saja ya. Karena sekarang saya masih di Tulungagung,” begitu balasan sms yang dikirimkan Umi–sapaan akrab Dr Umi Dayati MPd, Sabtu (5/12).

Pada hari yang dijanjikan, di gedung Pascasarjana UM H2 nomor 118 pun obrolan bersama Umi tidak bisa serta merta berlangsung gayeng. Pasalnya, dia harus melayani sekitar sepuluh mahasiswanya dari jurusan PLS (Pendidikan Luar Sekolah) yang sedang konsultasi kepadanya. ”Karena saya juga dosen dan pembimbing di kampus, jadi sesibuk apa pun tetap harus ada waktu untuk konsultasi dengan mahasiswa. Maaf ya tadi harus nunggu dulu,” terang Umi.

Ya, Umi merupakan dosen di jurusan PLS UM. Selain itu, dia juga merupakan motivator. Jam terbang Umi memang tinggi. Kepada wartawan koran ini, Umi menyodorkan catatan agendanya. Benar saja, hampir dalam seminggu, dia pergi dari satu kota ke kota lain di seluruh Indonesia. ”Tidak tahu ya, Allah ’mencemplungkan’ saya menjadi motivator. Padahal dulu saya bukan motivator,” terang dia.

Awalnya pada tahun 2000, Umi lebih banyak menjadi pembicara untuk masalah gender. Saat itu menurutnya isu kesetaraan gender masih sangat santer dibicarakan. Bisa dibilang Umi adalah salah satu orang yang memperjuangkan kesetaraan gender. ”Waktu itu saya keliling Indonesia ngomong soal gender,” terang perempuan yang juga ahli parenting ini.
Kemudian setelah isu gender sudah dianggap mindstream, baru dia menjadi pembicara untuk urusan PAUD (pendidikan anak usia dini). ”Saat itu tahun 2006, PAUD masih belum sebanyak sekarang,” terang dia.

Pada tahun itu, menurut Umi, belum banyak orang yang concern terhadap PAUD. Bahkan saat itu, Kasi PAUD Kemendikbud RI Totok Isnanto hingga meminta bantuan kepadanya. Tidak hanya itu, bahkan dia juga dipanggil ke Jakarta untuk memberikan materi langsung kepada salah satu pejabat di Kemendikbud, Fasli Djalal. ”Bahkan, Pak Fasli hanya manggut-manggut sambil mencatat. Kok keesokan harinya beliau mempresentasikan dengan lebih baik. Gantian saya yang melongo,” ceritanya sambil terbahak.

Gencar menjadi pembicara, melakukan sosialisasi mengenai PAUD sejak 2006 hingga 2012 bisa dikatakan sarjana pendidik asal UM ini menjadi pejuang PAUD. ”Dulu saya juga ikut memperjuangkan One Village One PAUD. Dan sekarang PAUD bisa diterima di mana-mana,” terangnya.

Kemudian tahun 2012, ibu dua anak ini beralih menjadi motivator. Awalnya tidak ada pikiran untuk menjadi motivator. Namun selama menjadi pembicara, Umi menemukan bahwa audiens cenderung untuk melupakan materinya. Maka salah satu cara agar audiens ingat materi yang disampaikan, adalah dengan diberi motivasi. ”Ternyata cara seperti itu ampuh juga dan keterusan hingga sekarang,” urai perempuan yang masih energik di usia 53 tahun ini.
Menjadi motivator, namanya semakin melambung. Berkali-kali dia dijadikan pembicara di seminar-seminar, baik di dalam maupun di luar negeri. ”Kalau tingkat ASEAN sudah, tapi kalau di luar ASEAN masih belum,” jelas owner Indonesia LED Consultant.

Bahkan berkali-kali dia menjadi ’dokter’ untuk instansi atau korporasi yang sakit. ”Saya pernah menjadi pembicara pascatragedi kecelakaan pesawat Hercules di Medan beberapa waktu lalu. Banyak prajurit yang trauma untuk terbang. Namun dengan soft approach, mereka mampu menyembuhkan traumanya,” beber koordinator prodi PLS UM ini.

Karena jam terbangnya yang tinggi, tidak heran jika salah satu stasiun TV nasional memintanya untuk menjadi pembicara reguler, memberikan motivasi seminggu sekali dengan durasi dua jam. Honor yang didapatkan juga fantastis, Rp 50 juta dalam sekali tampil.

Namun tawaran yang menggiurkan itu dia tolak. Umi lebih suka menjadi motivator tanpa terikat. Dia juga berpikiran jika menjadi motivator dengan honor puluhan juta rupiah, bagaimana dengan PAUD atau sekolah kecil yang menginginkannya untuk menjadi pembicara. ”Padahal mereka ingin saya datang. Jika saya ingin menjadi motivator dengan tarif puluhan juta. Siapa yang ngopeni PAUD kecil itu. Makanya, saya tidak pernah mematok tarif,” katanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Menjadi pembicara di sekolah kecil, tentu saja tidak ada keuntungan secara finansial yang dia dapatkan. Apalagi jika sekolahnya harus masuk gang sempit di daerah sungai. Sering kali dia hanya mendapatkan sekotak makan siang dan ucapan terima kasih. ”Sebab, mereka tidak ada dana. Saya senang melihat mata mereka yang bahagia, euforia mereka ketika bertemu dengan saya. Kebahagian itu yang tidak bisa terbayarkan,” urai warga Sawojajar ini.
Bahkan karena komitmennya, Umi pernah menolak undangan menjadi pembicara di Kalimantan Timur dengan massa 8.000 orang. Umi lebih memilih menjadi pembicara di pondok pesantren kecil dengan audiens 30 orang. ”Namanya juga sudah janji. Saya tidak mau membuat orang kecewa,” tegasnya.

Ada salah satu kebiasaan Umi yang menarik. Dia tidak pernah mau membuka amplop honor usai menjadi pembicara. Selalu langsung dia serahkan kepada stafnya yang semuanya adalah sarjana UM yang dia pekerjakan. Stafnya juga yang akan me-manage hasil Umi dari menjadi pembicara. ”Saya juga manusia lho Mbak. Jika tahu berapa honor saya, takut jadi silau atau ada rasa kecewa dan mengurangi keikhlasan,” tandas dia. (*/c2/lid)

Sumber :
http://radarmalang.co.id/dr-umi-dayati-mpd-dosen-um-sekaligus-motivator-level-asean-25963.htm

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*